Tragedi Multi Orgasme di Konser DREAM THEATER
Saturday, February 11th, 2006CHAPTER V
Sebetulnya gw malu nih mau nulis review apa lagi ya lha wong Pak Sigit udah mengulas sangat detil dan ilmiah. Aku bener2 salut sama beliau ini; pemahaman terhadap musik DT secara rinci sangat baik termasuk jenis2 instrumen yang dibawakan oleh masing2 personel DT. Ck ck …
Terlepas dari semua keindahan reviewnya Mbah Metal Sigit, gw sendiri sebetulnya udah ngonsepin review khusus buat DT ini dalam beberapa Chapter (lagaknya kayak trilogy Glass Prison - This Dying Soul - The Root of All Evil aja ….), atau setidaknya ngikutin gayanya Saga bikin lagu. Ini juga terinspirasi banyak oleh kerendahan hati yang ditularkan Mike Portnoy ke penggemar setia melalui ke-humble-an beliau mengakui “kehebatan” musisi2 sebelumnya saat beliau mengonsep Scenes Froma Memory album. Nun sebelum album yang menurut MP merupakan “our ultimate musical achievement as a band” MP menginginkan membuat sebuah album konsep buat DT, namun apa ya? (ini juga dicuplik di double CD “The Making of Scenes” official bootleg terbitan YTSE Jam yang baru aja gw beli saat konser). Akankah sesuatu kayak “Misplaced Childhood”, “Operation: Mindcrime” atau apa? Wuiihh …. Merendah banget nih si MP. Salut dah gw …
Sebagai penikmat musik DT (gw takut bilang diri gw penggemar karena level gw masih jauh dibandingkan Om David yang setiap saat gw jawil jenggotnya sambil tanya:”iki lagu opo cak?” terus dia bicara sambil headbanging: “Fortune in Lie”. Aku cuman bisa bilang “Oooo …” sambil manggut-manggut dan nerusin headbanging. Jancuk, sayang sekali rambutku cepak. Gw ngiri ama Om Dapit yang gondrong dan disebelahnya ada mbak Linda Punky yang headbanging juga What a rocking crowd!!!.), gw juga punya (ecek2nya ) konsep dalam mereview konser ini dalam beberapa chapter:
I. Pemanasan Sebulan Sebelum Konser (tersebar di milis m-claro dan SMS ratjoen; akan gw rapikan semuanya jadi satu sub-artikel)
II. Get Prepared for the Concert in Spore (udah gw post di progarchives dan di blog gw PROGRESSIVE MIND)
III. Prosesi Keberangkatan Jamaah Sacrificed Sons (akan ditulis)
IV. Detik-detik Menjelang “JRENG!” (akan ditulis)
V. Tragedi Multi Orgasme Konser DT di Singapore Indoor Stadium (artikel ini)
VI. Prosesi Kepulangan Jamaah Sacrificed Sons
VII. Dampak ”After The Show”
VIII. Harapan Ke Depan (biyuh! Keliatan banget ye kalo gw konsultan Business Strategy & People Development – kalau di laporan akhir gw biasa sebut bagian ini sebagai ”MOVING FORWARD …”. Tapi musik ama kerjaan jadi konsultan itu memang dua2nya hobi gw, jadi ya setiap detik gw enjoy aja! Life is so damn beautiful with music and consulting business!!!)
Wuih …. bak mengikuti jejak DT dengan album kedelapan yang bertajuk Octavarium, maka serangkaian curhat (bukan review lho!) tersebut gw beri nama: OCTALIPUTAN. Mengerjakannya dengan hati senang dan bungah meski beban berat karena udah terlanjur gw share di milis ini. Jadi, kalian berhak menagih kelanjutannya.
Sekarang, gw tulis dulu CHAPTER V: Tragedi Multi Orgasme
Setelah delay 1 jam, playback musik berganti dengan sebuah instrumental (yang gw gak tahu punya siapa) bak konser Yes yang selalu diawali dengan Firebird Suite kemudian disertai Siberian Khatru. Saat ini beda, karena awalnya adalah sebuah ambient yang tercipta dari samplingnya Rudess disertai dengan rofel double pedal bass drum yang keluar dari sampling. Gw
paling merinding denger pembukaan ini, apalagi saat distorsi gitar (sampling, namun sound nya bersih) seperti riff pendek kasar namun ngemplang telinga dan ulu ati. Tunggu dulu … tahan nafas .. nikmati gebugan double bass drum khas seperti genderang maju perang bagi pasukan barata yudah yang menggelegar Spore Indoor Stadium. Tiba2 ”JRENG” lighting dan musik menyeruak serentak menggelegar dan memecahkan keheningan malam. Sebuah alunan musik menghentak menggetarkan jiwa meluncur dengan lancar memadukan suara dan pencahayaan yang serasi, meskipun pencahayaan sangat sederhana desainnya. Penonton yang tadinya pada manis duduk, meneruak mendekati panggung sambil mengacung-acungkan tangan dan menyanyi sekuat tenaga. Banyak yang berdiri di atas kursi duduknya. Kelima anggota yang hampir semuanya berkostum gelap, kecuali Mike Portnoy yang memakai biru muda dan berkacamata, tampil sangat memukau. Yeah … THE ROOT OF ALL EVIL menggema memecahkan gendhank telinga. Harus diakui, seperti biasanya awal konser, sound system tidak begitu bagus, namun masih oke buat kami yang berdiri di sayap Rudess. Namun, tembang pembuka ini begitu pas sekali membuka konser dan membuat suasana menjadi sangat hangar binger. Gw coba ukur denyut jantung gw, biyuh mengalir 8 kali lebaih cepet! Bak album ke delapan DT! Pada saat lagu ini dikumandangkan, backdrop raksasa cover Octavarium menghiasi panggung. Sungguh memukau!
Dengan relatif tidak ada jeda, setelah ROOT selesai dibawakan, tiba2 si pendiam Myung maju empat langkah ke depan dan saat semua hening, jari2nya secara cepat mencabik senar bassnya secara berulang menghasilkan nada indah yang merupakan intro ….. apalagi kalu bukan PANIC ATTACK yang bertempo cepat itu. Kontan penontan menyoraki atraksi si pendiam Myung ini karena begitu sigapnya dia menyahut habisnya lagu pembuka dan melanjutkan dengan lagu kedua ini. Perkasa sekali lagu ini. Portnoy menyambut cabikan Myung dengan gedebhugan suara kombinasi tom dan bass drum dengan tempo cepat sekali. Suara LaBrie menyeruak lantang dan gagah perkasa: ”All wound up On The edge Terrified …”. Penonton pun semakin panas dang w bersama
Om david dan penonton gila lainnya tereak juga: “I am paralyzed. So afraid to die …!!”. Biyuh … uediyan tenan! Muantabz. Gw ikutan headbanging karena Om David di sebelah gw dan juga mbak Linda melakukannya. Heboh dah barisan kita. Seruuuuu!!!! Di bagian yang simfonik di menit 3:23 dimana Rudess menhunjam, gw bener2 nggeblak!!!! Dilanjutin dengan lirik “Why do I feel so numb?” biyuuuuhhhh …. Aduh Gusti Allah … ampuni dosa hamba … ini segmen musik yang sangat membunuh! Apalagi di bagian akhir yang temponya cepet disertai solo gitar cepet dari Petrucci … Oh ….. nggulung koming bundhas dah kepala gw ….
Untung lanjutannya adalah A FORTUNE IN LIES dari album WDADU yang gw gak apal, jadi pas lagu ini gw cumin ikut jingkrak-jingkrak aja, jadi gw bias istirahat sejenak buat headbanging. Tapi sungguh, lagu ini nikmat dibawain LIVE.
UNDER A GLASS MOON yang dibuka dengan pencetan kibor Rudess dengan nuansa sedikit simfonik diikuti gedebukan drum Portnoy dan cabikan bass gitar Myung begitu megahnya dibawakan. Terus yang biking w nggeblak nggulung koming itu ya rofel-rofelnya Portnoy diikuti kemudian riff yang sangat membunuh. Kemudian disertai vocal “Tell me …” Oh my God …. How wonderful the music created and performed by these gentlemen!!!! What a rocking nuance has been created by them! Petrucci sekali waktu mengacungkan tangan kanannya sebelum memainkan gitar solo pada interlude.
Selanjutnya adalah LIE (yang gw juga terpaksa njawil
Om david: “lagu opo iki cak?”) yang sangat metal pol dibawainnya. Mohon maaf gw getahu banget lagu ini karena dulu gw kenal DT pertama kali ya dari AWAKE namun lagu LIE ini di trek 8 dimana dulu gw cumin sampek tahan sampek trek 5 atau 6 aja; kagak kuat kuping gw. Akhirmya, lagu gagah perkasa ini gw gak khatam. (Tapi setelah konser, lagu ini gw puter ber kali2 dan suka pol!).
Tiba2 musik sedap menggema di kesunyian dan mengingatkan gw ke Pink Floyd. Memang band gila ini! Tahu gak … ternyata mereka bawaik PERUVIAN SKIES dengan nuansa lain. Wuih lagu ini top banget! Bagian awalnya dengan petikan gitar yang mengingatkan gw pada FRANK MARINO dengan grupnya MAHOGANY RUSH dibawakan dengan rhythm section yang sangat bluesy banget meski LaBrie menyanyikannya secara ballad rock. Bagian awalnya memang menday-ndayu. Gw ikut nyanyi sambil baca liriknya di layer LifeDrive PDA gw yang udah gw isi semua lirik DT. Anehnya, gw nyanyi sambil atiku berdegup-degup membayangkan: “bakalan seperti apa ya bagian metalnya nanti dibawain live? – soalnya gw suka banget bagian metalnya nan perkasa”. Bener aja cing pada menit ke 3:24 diawali dengan riff ganas Petrucci, lagu mulai memanas bernuansa claro dengan solo gitar memukai. Yeah! Pas menit 4:24 maka metal itupun dating dan … gw gak kuasa lagi buat ikut headbanging nganti ndasku ngelu dan setelah itu muntah grontol campur jenang grendhul …. Wuuiiiihhh. Anjriiiiiitttt …… terus gw ikut tereak se kenceng-kencengnya “Under PERUVIAN SKIES ….!!!! Yeaaaaaaahhhhhhhh” disertai gedebukan drum Portnoy dan cabikan bass gitar Myung, kocokan riff Petrucci … I’m totally NUMB! Diyancuuuuuuuukkkkkk!!!!! This band really ROCKS man!!!!!
Tiba-tiba Portnoy menabuh snarenya cepet diikuti riff dari Petrucci menandai STRANGE DEJAVU yang kagak bias berdiri sendiri itu. Yeah … ini lagu kud dibarengi dua lagu lagi yaitu THROUGH MY WORDS diikuti oleh puncak kegilaan dan kemasygulan pada FATAL TRAGEDY yang interludenya maut sekali itu! “Tonight I’ve been searching for …” aduuuuuhhhhh indahnya untaian tangga nada dan alunan lirik lagu ini. Di menit 2:42 saat musiknya naik, gw kagak bias tinggal diem lagi, kepala gw headbanging abis2an! Ini lagu maha dahsyat sekali. “Time to break free. I just can’t help myself …” Ya Tuhan .. ijinkan aku nggeblak beneran saat ini. Subhannallah … inilah hasil karya manusia ciptaanmu yang sempurna untuk ukuran manusia. Aku yakini tiada yang yang lebih sempurna dari Mu. Namun musik ini sudah sangat sempurna untuk ukuran manusia. Subhannallah ….
“Alone at night. I feel so strange. I need to find all the answers to my dreams …” gwa nyanyiin lantang menyertai masuknya FATAL TRAGEDY nan dahsyat itu. “As the night went on. I started to find my way. I leraned about a tragedy. A mystery still today” ….Ya ya ya ya ya … di gedung inilah tragedy multi orgasme terjadi serempak membius empat ribu orang penonton!!!! Apalagi di bagian menit 4:34 saat staccato musiknya berakrobat dimana keunggulan prima setiap pemain ditinjolkan sangat sempurna, membuat ati ini makin berdegup decak kagu. Ck ck ck ck …. Si Rudess-Petrucci kok bias main staccato gitu ya? Pas bagian ini gw tunjukin ke Henriko (temen gw yang nekat terbang dari KL demi konser ini gara2 ratjoen SMS gw yang gencar. Dia bener2 kagum ama DT dan bilanga: “Tot, gw kagak nyesel sama sekali ngikutin saran SMS ratjoen lo!”).
Setelah lemes KO gara2 tragedi multi orgasme, di bagian tiga lagu babak pertama konser gila ini gw udah kehjabisan nafas. Engos2an gw. Grontol dan jenang grendhul di perut gw udah abis, jadi udah gak bias dimuntahkan lagi. Apalagi kolak, udah kagak ada sama sekali. Akhirnya tiga lagu dari 6DOIT ini gw nikmati tanpa tereakan, meski gw kagum juga: PART 6: SOLITARY SHELL, 6DOIT PART 7: ABOUT TO CRASH, 6DOIT PART 8: LOSING TIME/GRAND FINALE.
”We’ll take an intermission and we’ll be back in fifteen minutes. See ya …!!” tereak LabRie.
INTERMISSION
Saat intermission gw, Rizal ama Henriko keluar gedung, setelah dicap tangan oleh petugas. Sambil menunggu smokers Rizal ama Riko ngerokok, kita membahas show pertama dengan kalimat yang kata2nya cumin terdiri dari satu kata aja: “Jancuk” diulang berulangkali sambil gedheg (geleng2 tanda masygul – red.). Riko yang kerja di Singapore dan paginya ada meeting besar di KL mengaku bahwa jam 5 dia rush ke airport Malaysia buat heading for Spore for the show mengaku bakalan rugi besar kalau dia stay overnight di KL. Riko ini dulu temen gw waktu kerja di Price Waterhouse Consulting dan salah satu temen ngerock gw yang sering gw critain di milis ini. Gw hepi dia masih ngerok abis meski malam itu pakeannya eksekutif. Yang juga gw suka, ternyata dia salatnya juga kenceng lima waktu meski kerja di negeri Singa. Salut gw! Rocker kudu salat soalnya, kalu ndak ya cuman bisa NUMB tapi lose context – tidak kontekstual begitulah … apalagi konseptual! Jadi … salat itu wajib, baru ngerock!
Pada saat nemenin Rizal n Riko ngerokok di luar gedung, ada tiga cewek yang juga ngerokok (masih muda2 kok udah ngrokok, kesiyan ye? Gak sayang sama aset yang dikaruniai Allah tuh !). Salah satu cewek tersebut nyapa gw: ”Mas, boleh minta kaosnya gak? Keren tuh …”. (soalnya ada tulisan gedhe: WHEN DREAM THEATER AND INDONESIA UNITE?). Waduh gw jawab yang punya kaos tuh juragan ANDRE Solucite nan baik hati …
Selesai ngerokok, gw ke toilet nguyuh dhisik. Biyuh pas lagi nguyuh ”AS I AM” menggelegar. Edhan! DT ini memang rocker sejati karena tepat waktu pas 15 menit mulai lagi. Setelah ati2 nyeleretin ritsleting karena takut si Otong terluka, gw mau lari sama Rizal. “BLEK!” wah … catetan lirik gw jatuh di bawah klosetnya orang ngothor. Waduh! Diambil ndak? Gak usah lah … dari pada kena bekas uyuh wong sak kampung ndayak, yo mending dikorbanin. Toh, gw punya di PDA juga. Udahlah … gw lari tunggang langgang sama Rizal. Eh gak kebagian tempat deket Om dapid dan jemaah SS lainnya. Ya udah akhirnya kita dapet tempat lebih dekat lagi dengan Myung. Wuih sedap sekali, jerawatnya Myung kelihatan tuh. Pilingan ndase (bagian belakang kepala yang kayak punuk sapi itu, kalo orang botak keliatan tuh pilingan) Jordan keliatan banget. Di tempat ini gw ama Rizal paling gila karena semakin petahkilan kayak kethek (monyet) sambil headbanging … wuih lebih leluasa lagi. Di sekitar gw cuman ada cewek satu yang gila. Kita cuwek aja pethakilan penchilakan di situ. EGP! ”For those who understand I extend my hand ..” gw tereakin sekenceng-kencengnya biar puwaszzzz…..
Pas ENDLESS SACRIFICE gw udah gak bisa mengatakan lagi kekaguman gw ama grup satu ini. Masygul aku. Takjub. Apalagi gw apal liriknya yang indah itu. Gw ikut nyanyi sama Rizal bagaikan paduan suara indah .. ”Cold lying on my bed …” apalagi di bagian mengharukan ini: “Why I chose this life. A superficial lie ….dst.”. Aduuuuhhhhhh siap deh gw nggulung koming lagi setelah nggeblak beberapa kali …. Di bagian metal nya gw udah gak bisa menghentikan syaraf otak gw untuk tidak mengirimkan sinyal perintah: ”PETHAKILAN!!!!” yang sakti itu. Kontan aja tangan kaki gw gerakkan mengikuti perintah sang otak. Sesekali gw dan Rizal headbanging bareng.
Pas I WALK BESIDE YOU dinyanyiin, gw cuman inget satu orang temen yang sangat baik dan selalu peduli kepada jamaah sejak mengingatkan pada pagi hari :”Jangan lupa bawa tiket dan paspor” lewat SMS nya yang sering disebar pada hari Jumat itu. Siapa lagi: Alte SANZ!. Si Sanz ini suka banget lagu ini. Gw juga nyanyi. Inilah lucunya musik. Kalo denger lagu kadang kita inget ama ”orang terdekat” yang kita sayangi, tapi kali ini setiap gw denger lagu ini, gw cuman inget sama satu orang –yang sama sekali bukan pacar gw: yaitu si Alte Sanz nan baik hati. Thanks for everything you helped us, sanz! You are a great friend, really!!! I’m proud having people like Sanz in this gemblunk milis, really!!! Setuju gak Om dapit, kalo sanz ini orangnya sangat OK buat temen?
NANGIS BERSAMA SACRIFICED SONS
Lagu ini sangat PRIBADI bagi gw! Coba aja tengok review gw di progarchives yang jelas mengagungkan lagu ini sebagai komposisi musik DT paling sempurna karena menggabungkan elemen neo prog yang cengeng dan mendayu dengan gegap gempitanya progressive metal music. Setiap orang yang suka Marillion Fish, IQ, Arena, Pallas, Pendragon udah pasti langsung ”BLENG” bisa menikmati separuh bagian pertama lagu ini yang totally NEO PROG to the corner, to the bone! Belum bicara liriknya yang sangat bagus sekali. Jujur, pas bagian sampling awal lagu ini yang berisi gremengan orang ngomong paska tragedi 9/11 saat gedung kembar ambruk itu, gw udah mbrenes mili meneteskan airmata. Airmata gw menandakan tiga hal: Pertama, rasa puji syukur kepada Allah SWT yang mengabulkan doaku untuk memasukkan lagu ini dalam set list. Kedua, alunan melodi lagu ini begitu sempurna tanpa cacat barang satu not pun; apalagi dikombinasikan unsur neo dan metal. Ketiga, kekuatan lirik dari lagu yang nuansamatik ini. ”God On High. Our Mistakes. Will Mankind Be Extinct?” adalah untaian kata pujian kepada SANG PENCIPTA yang sangat sederhana tapi menukin ulu ati.
Mungkin Allah mendengarkan setiap detil doaku karena ndak tahu kenapa pas lagu ini kok sound systemnya paling bersih, paling ulem, sehingga setiap detil suara terkuak dengan jelas. Treble pas, bass pas pula.
Tanpa banyak pikir, gw ikut nyanyi sama LaBrie: ”Walls are closing anxiously. Channel surfing Frantically …” diiringi mendayunya musik neo prog yang indah. Trus terang pas bagian ini gw nangis lagi: “No clues a complete surprise. Who’ll be coming home tonight….” Disertai alunan kibor mendayu Rudess.
ALL PRAISE THEIR SACRIFICED SONS …
ALL PRAISE THEIR SACRIFICED SONS …
Nggeblak!!!!!!!!!
Selanjutnya … intro yang sangat Pink Floyd sekali dari Jordan Rudess memainkan nada panjang keyboard dan effects nya. James LaBrie membantu mencet long sustain notes. Bagian awal ini DUH sangat ambient sekali dan ngemplang jiwa rasanya. Disinilah keperkasaan DT ditunjukkan dengan sempurna. Rudess memainkan kibor dan slide guitar ala Steve Howe, juga bunyi semacam flute. Pada saat solo ini anggota lain pada tidak berada di panggung kecuali LaBrie membantu Rudess. Gw dan Rizal beruntung bias nonton Rudess dari jarak 10 meter saja. Kringetnya gemobyosz, tapi mukanya serius dan simpatik sekali. Yeah … lagu OCTAVARIUM yang 24 menit lebih ini dibawakan sempurna dan sepanjang liriknya gw dan Rizal nyanyi bareng sampek serak. Pas bagian LaBrie nyanyi suara tinggi, gw kagum beneran kok nyampek suaranya. Hebat!
ENCORE
Setelah tereakan “We want more” akhirnya Rudess dan Petrucci naik panggung. Petrucci melakukan solo gitar panjang dan indah, yaitu yang ia bawakan sebelum Hollow Years di album Budoka. Gw sempet tereak “Hollow Years!” diikuti Rizal. Namun ternyata gw kecele karena yang dibawain adalah “THE SPIRIT CARRIES ON” .. Oh nikmatnya ….
Penonton hanyut menikmati lagu ini sambil nyanyi bareng “If I die tomorrow …”
Kalau Yes biasanya mengakhiri konsernya dengan Roundabout, kalo DT punya kebiasaan dengan PULL ME UNDER sebagai bagian dari Encore nya. Meski lagu ini personil DT sendiri sudah meras bosan namun bagi gw ini lagu masih saja sangat memukau. Apalagi intronya yang mendayu tidak menyagka bahwa lagu ini akan mengalami transformasi menjadi lagu yang sangat metal. Karena merupakan salah satu lagu favorit gw, tentu aja gw ama Rizal ikut nyanyi “This world is spinning around me ….” sambil pencilakan pethakilan. Yang membuat masygul, lagu ini diimprovisasi dengan Metropolis Part 1. Yang juga menagumkan saat musik tiba-tiba “pet” dibarengi dengan pet nya lighting (salut gw sama lighting engineer nya). Terus jeda sangat lama tapi dari keremangan malam gw bias liat bahwa semua anggota DT masih tidak beranjak dari tempatnya. Gak tahu atas komando dari siapa tahu2 musiknya JRENG lagi secara bersamaan semua instrument masuk dibagrengi sorotan lighting juga. Ck ck ck ck … kompak sekaleeeeee ….
Udah deh .. kumplitlah semua penonton selama tiga jam penuh disajiin musik berkualitas dengan musisi2 handal melalui lagu2 yang tak secuilpun mengecewakan kita. Gangguan teknis ada namun skalanya nano aja disbanding shownya yang giga mengagumkan itu. Rapi, padet, cepet, ajek, kenceng, seimbang, harmonis dan melodic. Tuh … kurang apa lagi tuh …. Yang gak nonton, sudah tidak ada kata lain selain satu ini: RUGI!
Tadi malem dalam perjalanan pulang ama Om Dapit, dia bilang ”Ini adalah kopdar m-claro termahal namun puwas sekali”. Yah memang … bukan hanya DT yang menawan, yang penting PERSAUDARAAN SESAMA ANGGOTA M-CLARO itu lho yang menyenangkan sekali. Sangat terkesan dah gw sama keseluruhan event ini mulai dari prosesi keberangkatan sampek prosesi kepulangan. Gw sekarang kena dampaknya: sampe hari ini masih gak mau lepas dari musik DT padahal CD prog lain menunggu: NEAL MORSE ”?” (yang katanya yahud), LEAVES EYES ”Lovelorn”, ”ROINE STOLT” terbaru …. biarin lah mereka ngantri dulu, gw masih mabuk kepayang sama DT. Sekarang lagi pasang THE GLASS PRISON ….
Salam,
G


