Archive for February, 2006

Tragedi Multi Orgasme di Konser DREAM THEATER

Saturday, February 11th, 2006

CHAPTER V

Sebetulnya gw malu nih mau nulis review apa lagi ya lha wong Pak Sigit udah mengulas sangat detil dan ilmiah. Aku bener2 salut sama beliau ini; pemahaman terhadap musik DT secara rinci sangat baik termasuk jenis2 instrumen yang dibawakan oleh masing2 personel DT. Ck ck …

Terlepas dari semua keindahan reviewnya Mbah Metal Sigit, gw sendiri sebetulnya udah ngonsepin review khusus buat DT ini dalam beberapa Chapter (lagaknya kayak trilogy Glass Prison - This Dying Soul - The Root of All Evil aja ….), atau setidaknya ngikutin gayanya Saga bikin lagu. Ini juga terinspirasi banyak oleh kerendahan hati yang ditularkan Mike Portnoy ke penggemar setia melalui ke-humble-an beliau mengakui “kehebatan” musisi2 sebelumnya saat beliau mengonsep Scenes Froma Memory album. Nun sebelum album yang menurut MP merupakan “our ultimate musical achievement as a band” MP menginginkan membuat sebuah album konsep buat DT, namun apa ya? (ini juga dicuplik di double CD “The Making of Scenes” official bootleg terbitan YTSE Jam yang baru aja gw beli saat konser). Akankah sesuatu kayak “Misplaced Childhood”, “Operation: Mindcrime” atau apa? Wuiihh …. Merendah banget nih si MP. Salut dah gw …

Sebagai penikmat musik DT (gw takut bilang diri gw penggemar karena level gw masih jauh dibandingkan Om David yang setiap saat gw jawil jenggotnya sambil tanya:”iki lagu opo cak?” terus dia bicara sambil headbanging: “Fortune in Lie”. Aku cuman bisa bilang “Oooo …” sambil manggut-manggut dan nerusin headbanging. Jancuk, sayang sekali rambutku cepak. Gw ngiri ama Om Dapit yang gondrong dan disebelahnya ada mbak Linda Punky  yang headbanging juga What a rocking crowd!!!.), gw juga punya (ecek2nya ) konsep dalam mereview konser ini dalam beberapa chapter:

I.                   Pemanasan Sebulan Sebelum Konser (tersebar di milis m-claro dan SMS ratjoen; akan gw rapikan semuanya jadi satu sub-artikel)

II.                Get Prepared for the Concert in Spore (udah gw post di progarchives dan di blog gw PROGRESSIVE MIND)

III.             Prosesi Keberangkatan Jamaah Sacrificed Sons (akan ditulis)

IV.             Detik-detik Menjelang “JRENG!” (akan ditulis)

V.                Tragedi Multi Orgasme Konser DT di Singapore Indoor Stadium (artikel ini)

VI.             Prosesi Kepulangan Jamaah Sacrificed Sons

VII.          Dampak ”After The Show”

VIII.       Harapan Ke Depan (biyuh! Keliatan banget ye kalo gw konsultan Business Strategy & People Development – kalau di laporan akhir gw biasa sebut bagian ini sebagai ”MOVING FORWARD …”. Tapi musik ama kerjaan jadi konsultan itu memang dua2nya hobi gw, jadi ya setiap detik gw enjoy aja! Life is so damn beautiful with music and consulting business!!!)

Wuih …. bak mengikuti jejak DT dengan album kedelapan yang bertajuk Octavarium, maka serangkaian curhat (bukan review lho!) tersebut gw beri nama: OCTALIPUTAN. Mengerjakannya dengan hati senang dan bungah meski beban berat karena udah terlanjur gw share di milis ini. Jadi, kalian berhak menagih kelanjutannya.

Sekarang, gw tulis dulu CHAPTER V: Tragedi Multi Orgasme

Setelah delay 1 jam, playback musik berganti dengan sebuah instrumental (yang gw gak tahu punya siapa) bak konser Yes yang selalu diawali dengan Firebird Suite kemudian disertai Siberian Khatru. Saat ini beda, karena awalnya adalah sebuah ambient yang tercipta dari samplingnya Rudess disertai dengan rofel double pedal bass drum yang keluar dari sampling. Gw Dt_crowd_after_the_show paling merinding denger pembukaan ini, apalagi saat distorsi gitar (sampling, namun sound nya bersih) seperti riff pendek kasar namun ngemplang telinga dan ulu ati. Tunggu dulu … tahan nafas .. nikmati gebugan double bass drum khas seperti genderang maju perang bagi pasukan barata yudah yang menggelegar Spore Indoor Stadium. Tiba2 ”JRENG” lighting dan musik menyeruak serentak menggelegar dan memecahkan keheningan malam. Sebuah alunan musik menghentak menggetarkan jiwa meluncur dengan lancar memadukan suara dan pencahayaan yang serasi, meskipun pencahayaan sangat sederhana desainnya. Penonton yang tadinya pada manis duduk, meneruak mendekati panggung sambil mengacung-acungkan tangan dan menyanyi sekuat tenaga. Banyak yang berdiri di atas kursi duduknya. Kelima anggota yang hampir semuanya berkostum gelap, kecuali Mike Portnoy yang memakai biru muda dan berkacamata, tampil sangat memukau. Yeah … THE ROOT OF ALL EVIL menggema memecahkan gendhank telinga. Harus diakui, seperti biasanya awal konser, sound system tidak begitu bagus, namun masih oke buat kami yang berdiri di sayap Rudess. Namun, tembang pembuka ini begitu pas sekali membuka konser dan membuat suasana menjadi sangat hangar binger. Gw coba ukur denyut jantung gw, biyuh mengalir 8 kali lebaih cepet! Bak album ke delapan DT! Pada saat lagu ini dikumandangkan, backdrop raksasa cover Octavarium menghiasi panggung. Sungguh memukau!

Dengan relatif tidak ada jeda, setelah ROOT selesai dibawakan, tiba2 si pendiam Myung maju empat langkah ke depan dan saat semua hening, jari2nya secara cepat mencabik senar bassnya secara berulang menghasilkan nada indah yang merupakan intro ….. apalagi kalu bukan PANIC ATTACK yang bertempo cepat itu. Kontan penontan menyoraki atraksi si pendiam Myung ini karena begitu sigapnya dia menyahut habisnya lagu pembuka dan melanjutkan dengan lagu kedua ini. Perkasa sekali lagu ini. Portnoy menyambut cabikan Myung dengan gedebhugan suara kombinasi tom dan bass drum dengan tempo cepat sekali. Suara LaBrie menyeruak lantang dan gagah perkasa: ”All wound up On The edge Terrified …”. Penonton pun semakin panas dang w bersama

Om

david dan penonton gila lainnya tereak juga: “I am paralyzed. So afraid to die …!!”. Biyuh … uediyan tenan! Muantabz. Gw ikutan headbanging karena Om David di sebelah gw dan juga mbak Linda melakukannya. Heboh dah barisan kita. Seruuuuu!!!! Di bagian yang simfonik di menit 3:23 dimana Rudess menhunjam, gw bener2 nggeblak!!!! Dilanjutin dengan lirik “Why do I feel so numb?” biyuuuuhhhh …. Aduh Gusti Allah … ampuni dosa hamba … ini segmen musik yang sangat membunuh! Apalagi di bagian akhir yang temponya cepet disertai solo gitar cepet dari Petrucci … Oh ….. nggulung koming bundhas dah kepala gw ….Dt_good_bye_by_david

Untung lanjutannya adalah A FORTUNE IN LIES dari album WDADU yang gw gak apal, jadi pas lagu ini gw cumin ikut jingkrak-jingkrak aja, jadi gw bias istirahat sejenak buat headbanging. Tapi sungguh, lagu ini nikmat dibawain LIVE.

UNDER A GLASS MOON yang dibuka dengan pencetan kibor Rudess dengan nuansa sedikit simfonik diikuti gedebukan drum Portnoy dan cabikan bass gitar Myung begitu megahnya dibawakan. Terus yang biking w nggeblak nggulung koming itu ya rofel-rofelnya Portnoy diikuti kemudian riff yang sangat membunuh. Kemudian disertai vocal “Tell me …” Oh my God …. How wonderful the music created and performed by these gentlemen!!!! What a rocking nuance has been created by them! Petrucci sekali waktu mengacungkan tangan kanannya sebelum memainkan gitar solo pada interlude.

Selanjutnya adalah LIE (yang gw juga terpaksa njawil

Om

david: “lagu opo iki cak?”) yang sangat metal pol dibawainnya. Mohon maaf gw getahu banget lagu ini karena dulu gw kenal DT pertama kali ya dari AWAKE namun lagu LIE ini di trek 8 dimana dulu gw cumin sampek tahan sampek trek 5 atau 6 aja; kagak kuat kuping gw. Akhirmya, lagu gagah perkasa ini gw gak khatam. (Tapi setelah konser, lagu ini gw puter ber kali2 dan suka pol!).

Tiba2 musik sedap menggema di kesunyian dan mengingatkan gw ke Pink Floyd. Memang band gila ini! Tahu gak … ternyata mereka bawaik PERUVIAN SKIES dengan nuansa lain. Wuih lagu ini top banget! Bagian awalnya dengan petikan gitar yang mengingatkan gw pada FRANK MARINO dengan grupnya MAHOGANY RUSH dibawakan dengan rhythm section yang sangat bluesy banget meski LaBrie menyanyikannya secara ballad rock. Bagian awalnya memang menday-ndayu. Gw ikut nyanyi sambil baca liriknya di layer LifeDrive PDA gw yang udah gw isi semua lirik DT. Anehnya, gw nyanyi sambil atiku berdegup-degup membayangkan: “bakalan seperti apa ya bagian metalnya nanti dibawain live? – soalnya gw suka banget bagian metalnya nan perkasa”. Bener aja cing pada menit ke 3:24 diawali dengan riff ganas Petrucci, lagu mulai memanas bernuansa claro dengan solo gitar memukai. Yeah! Pas menit 4:24 maka metal itupun dating dan … gw gak kuasa lagi buat ikut headbanging nganti ndasku ngelu dan setelah itu muntah grontol campur jenang grendhul …. Wuuiiiihhh. Anjriiiiiitttt …… terus gw ikut tereak se kenceng-kencengnya “Under PERUVIAN SKIES ….!!!! Yeaaaaaaahhhhhhhh” disertai gedebukan drum Portnoy dan cabikan bass gitar Myung, kocokan riff Petrucci … I’m totally NUMB! Diyancuuuuuuuukkkkkk!!!!! This band really ROCKS man!!!!!

Tiba-tiba Portnoy menabuh snarenya cepet diikuti riff dari Petrucci menandai STRANGE DEJAVU yang kagak bias berdiri sendiri itu. Yeah … ini lagu kud dibarengi dua lagu lagi yaitu THROUGH MY WORDS diikuti oleh puncak kegilaan dan kemasygulan pada FATAL TRAGEDY yang interludenya maut sekali itu! “Tonight I’ve been searching for …” aduuuuuhhhhh indahnya untaian tangga nada dan alunan lirik lagu ini. Di menit 2:42 saat musiknya naik, gw kagak bias tinggal diem lagi, kepala gw headbanging abis2an! Ini lagu maha dahsyat sekali. “Time to break free. I just can’t help myself …” Ya Tuhan .. ijinkan aku nggeblak beneran saat ini. Subhannallah … inilah hasil karya manusia ciptaanmu yang sempurna untuk ukuran manusia. Aku yakini tiada yang yang lebih sempurna dari Mu. Namun musik ini sudah sangat sempurna untuk ukuran manusia. Subhannallah ….

“Alone at night. I feel so strange. I need to find all the answers to my dreams …” gwa nyanyiin lantang menyertai masuknya FATAL TRAGEDY nan dahsyat itu. “As the night went on. I started to find my way. I leraned about a tragedy. A mystery still today” ….Ya ya ya ya ya … di gedung inilah tragedy multi orgasme terjadi serempak membius empat ribu orang penonton!!!! Apalagi di bagian menit 4:34 saat staccato musiknya berakrobat dimana keunggulan prima setiap pemain ditinjolkan sangat sempurna, membuat ati ini makin berdegup decak kagu. Ck ck ck ck …. Si Rudess-Petrucci kok bias main staccato gitu ya? Pas bagian ini gw tunjukin ke Henriko (temen gw yang nekat terbang dari KL demi konser ini gara2 ratjoen SMS gw yang gencar. Dia bener2 kagum ama DT dan bilanga: “Tot, gw kagak nyesel sama sekali ngikutin saran SMS ratjoen lo!”).

Setelah lemes KO gara2 tragedi multi orgasme, di bagian tiga lagu babak pertama konser gila ini gw udah kehjabisan nafas. Engos2an gw. Grontol dan jenang grendhul di perut gw udah abis, jadi udah gak bias dimuntahkan lagi. Apalagi kolak, udah kagak ada sama sekali. Akhirnya tiga lagu dari 6DOIT ini gw nikmati tanpa tereakan, meski gw kagum juga: PART 6: SOLITARY SHELL, 6DOIT PART 7: ABOUT TO CRASH, 6DOIT PART 8: LOSING TIME/GRAND FINALE.

”We’ll take an intermission and we’ll be back in fifteen minutes. See ya …!!” tereak LabRie.

INTERMISSION

Saat intermission gw, Rizal ama Henriko keluar gedung, setelah dicap tangan oleh petugas. Sambil menunggu smokers Rizal ama Riko ngerokok, kita membahas show pertama dengan kalimat yang kata2nya cumin terdiri dari satu kata aja: “Jancuk” diulang berulangkali sambil gedheg (geleng2 tanda masygul – red.). Riko yang kerja di Singapore dan paginya ada meeting besar di KL mengaku bahwa jam 5 dia rush ke airport Malaysia buat heading for Spore for the show mengaku bakalan rugi besar kalau dia stay overnight di KL. Riko ini dulu temen gw waktu kerja di Price Waterhouse Consulting dan salah satu temen ngerock gw yang sering gw critain di milis ini. Gw hepi dia masih ngerok abis meski malam itu pakeannya eksekutif. Yang juga gw suka, ternyata dia salatnya juga kenceng lima waktu meski kerja di negeri Singa. Salut gw! Rocker kudu salat soalnya, kalu ndak ya cuman bisa NUMB tapi lose context – tidak kontekstual begitulah … apalagi konseptual! Jadi … salat itu wajib, baru ngerock!

Pada saat nemenin Rizal n Riko ngerokok di luar gedung, ada tiga cewek yang juga ngerokok (masih muda2 kok udah ngrokok, kesiyan ye? Gak sayang sama aset yang dikaruniai Allah tuh !). Salah satu cewek tersebut nyapa gw: ”Mas, boleh minta kaosnya gak? Keren tuh …”. (soalnya ada tulisan gedhe: WHEN DREAM THEATER AND INDONESIA UNITE?). Waduh gw jawab yang punya kaos tuh juragan ANDRE Solucite nan baik hati …

Selesai ngerokok, gw ke toilet nguyuh dhisik. Biyuh pas lagi nguyuh ”AS I AM” menggelegar. Edhan! DT ini memang rocker sejati karena tepat waktu pas 15 menit mulai lagi. Setelah ati2 nyeleretin ritsleting karena takut si Otong terluka, gw mau lari sama Rizal. “BLEK!” wah … catetan lirik gw jatuh di bawah klosetnya orang ngothor. Waduh! Diambil ndak? Gak usah lah … dari pada kena bekas uyuh wong sak kampung ndayak, yo mending dikorbanin. Toh, gw punya di PDA juga. Udahlah … gw lari tunggang langgang sama Rizal. Eh gak kebagian tempat deket Om dapid dan jemaah SS lainnya. Ya udah akhirnya kita dapet tempat lebih dekat lagi dengan Myung. Wuih sedap sekali, jerawatnya Myung kelihatan tuh. Pilingan ndase (bagian belakang kepala yang kayak punuk sapi itu, kalo orang botak keliatan tuh pilingan) Jordan keliatan banget. Di tempat ini gw ama Rizal paling gila karena semakin petahkilan kayak kethek (monyet) sambil headbanging … wuih lebih leluasa lagi. Di sekitar gw cuman ada cewek satu yang gila. Kita cuwek aja pethakilan penchilakan di situ. EGP! ”For those who understand I extend my hand ..” gw tereakin sekenceng-kencengnya biar puwaszzzz…..

Pas ENDLESS SACRIFICE gw udah gak bisa mengatakan lagi kekaguman gw ama grup satu ini. Masygul aku. Takjub. Apalagi gw apal liriknya yang indah itu. Gw ikut nyanyi sama Rizal bagaikan paduan suara indah .. ”Cold lying on my bed …” apalagi di bagian mengharukan ini: “Why I chose this life. A superficial lie ….dst.”. Aduuuuhhhhhh siap deh gw nggulung koming lagi setelah nggeblak beberapa kali …. Di bagian metal nya gw udah gak bisa menghentikan syaraf otak gw untuk tidak mengirimkan sinyal perintah: ”PETHAKILAN!!!!” yang sakti itu. Kontan aja tangan kaki gw gerakkan mengikuti perintah sang otak. Sesekali gw dan Rizal headbanging bareng.

Pas I WALK BESIDE YOU dinyanyiin, gw cuman inget satu orang temen yang sangat baik dan selalu peduli kepada jamaah sejak mengingatkan pada pagi hari :”Jangan lupa bawa tiket dan paspor” lewat SMS nya yang sering disebar pada hari Jumat itu. Siapa lagi: Alte SANZ!. Si Sanz ini suka banget lagu ini. Gw juga nyanyi. Inilah lucunya musik. Kalo denger lagu kadang kita inget ama ”orang terdekat” yang kita sayangi, tapi kali ini setiap gw denger lagu ini, gw cuman inget sama satu orang –yang sama sekali bukan pacar gw: yaitu si Alte Sanz nan baik hati. Thanks for everything you helped us, sanz! You are a great friend, really!!! I’m proud having people like Sanz in this gemblunk milis, really!!! Setuju gak Om dapit, kalo sanz ini orangnya sangat OK buat temen?

NANGIS BERSAMA SACRIFICED SONS

Lagu ini sangat PRIBADI bagi gw! Coba aja tengok review gw di progarchives yang jelas mengagungkan lagu ini sebagai komposisi musik DT paling sempurna karena menggabungkan elemen neo prog yang cengeng dan mendayu dengan gegap gempitanya progressive metal music. Setiap orang yang suka Marillion Fish, IQ, Arena, Pallas, Pendragon udah pasti langsung ”BLENG” bisa menikmati separuh bagian pertama lagu ini yang totally NEO PROG to the corner, to the bone!  Belum bicara liriknya yang sangat bagus sekali. Jujur, pas bagian sampling awal lagu ini yang berisi gremengan orang ngomong paska tragedi 9/11 saat gedung kembar ambruk itu, gw udah mbrenes mili meneteskan airmata. Airmata gw menandakan tiga hal: Pertama, rasa puji syukur kepada Allah SWT yang mengabulkan doaku untuk memasukkan lagu ini dalam set list. Kedua, alunan melodi lagu ini begitu sempurna tanpa cacat barang satu not pun; apalagi dikombinasikan unsur neo dan metal. Ketiga, kekuatan lirik dari lagu yang nuansamatik ini. ”God On High. Our Mistakes. Will Mankind Be Extinct?” adalah untaian kata pujian kepada SANG PENCIPTA yang sangat sederhana tapi menukin ulu ati.

Mungkin Allah mendengarkan setiap detil doaku karena ndak tahu kenapa pas lagu ini kok sound systemnya paling bersih, paling ulem, sehingga setiap detil suara terkuak dengan jelas. Treble pas, bass pas pula.

Tanpa banyak pikir, gw ikut nyanyi sama LaBrie: ”Walls are closing anxiously. Channel surfing Frantically …” diiringi mendayunya musik neo prog yang indah. Trus terang pas bagian ini gw nangis lagi: “No clues a complete surprise. Who’ll be coming home tonight….” Disertai alunan kibor mendayu Rudess.

ALL PRAISE THEIR SACRIFICED SONS …

ALL PRAISE THEIR SACRIFICED SONS …

Nggeblak!!!!!!!!!

Selanjutnya … intro yang sangat Pink Floyd sekali dari Jordan Rudess memainkan nada panjang keyboard dan effects nya. James LaBrie membantu mencet long sustain notes. Bagian awal ini DUH sangat ambient sekali dan ngemplang jiwa rasanya. Disinilah keperkasaan DT ditunjukkan dengan sempurna. Rudess memainkan kibor dan slide guitar ala Steve Howe, juga bunyi semacam flute. Pada saat solo ini anggota lain pada tidak berada di panggung kecuali LaBrie membantu Rudess. Gw dan Rizal beruntung bias nonton Rudess dari jarak 10 meter saja. Kringetnya gemobyosz, tapi mukanya serius dan simpatik sekali. Yeah … lagu OCTAVARIUM yang 24 menit lebih ini dibawakan sempurna dan sepanjang liriknya gw dan Rizal nyanyi bareng sampek serak. Pas bagian LaBrie nyanyi suara tinggi, gw kagum beneran kok nyampek suaranya. Hebat!

ENCORE

Setelah tereakan “We want more” akhirnya Rudess dan Petrucci naik panggung. Petrucci melakukan solo gitar panjang dan indah, yaitu yang ia bawakan sebelum Hollow Years di album Budoka. Gw sempet tereak “Hollow Years!” diikuti Rizal. Namun ternyata gw kecele karena yang dibawain adalah “THE SPIRIT CARRIES ON” .. Oh nikmatnya ….

Penonton hanyut menikmati lagu ini sambil nyanyi bareng “If I die tomorrow …”

Kalau Yes biasanya mengakhiri konsernya dengan Roundabout, kalo DT punya kebiasaan dengan PULL ME UNDER sebagai bagian dari Encore nya. Meski lagu ini personil DT sendiri sudah meras bosan namun bagi gw ini lagu masih saja sangat memukau. Apalagi intronya yang mendayu tidak menyagka bahwa lagu ini akan mengalami transformasi menjadi lagu yang sangat metal. Karena merupakan salah satu lagu favorit gw, tentu aja gw ama Rizal ikut nyanyi “This world is spinning around me ….” sambil pencilakan pethakilan. Yang membuat masygul, lagu ini diimprovisasi dengan Metropolis Part 1. Yang juga menagumkan saat musik tiba-tiba “pet” dibarengi dengan pet nya lighting (salut gw sama lighting engineer nya). Terus jeda sangat lama tapi dari keremangan malam gw bias liat bahwa semua anggota DT masih tidak beranjak dari tempatnya. Gak tahu atas komando dari siapa tahu2 musiknya JRENG lagi secara bersamaan semua instrument masuk dibagrengi sorotan lighting juga. Ck ck ck ck … kompak sekaleeeeee ….

Udah deh .. kumplitlah semua penonton selama tiga jam penuh disajiin musik berkualitas dengan musisi2 handal melalui lagu2 yang tak secuilpun mengecewakan kita. Gangguan teknis ada namun skalanya nano aja disbanding shownya yang giga mengagumkan itu. Rapi, padet, cepet, ajek, kenceng, seimbang, harmonis dan melodic. Tuh … kurang apa lagi tuh …. Yang gak nonton, sudah tidak ada kata lain selain satu ini: RUGI!

Tadi malem dalam perjalanan pulang ama Om Dapit, dia bilang ”Ini adalah kopdar m-claro termahal namun puwas sekali”. Yah memang … bukan hanya DT yang menawan, yang penting PERSAUDARAAN SESAMA ANGGOTA M-CLARO itu lho yang menyenangkan sekali. Sangat terkesan dah gw sama keseluruhan event ini mulai dari prosesi keberangkatan sampek prosesi kepulangan. Gw sekarang kena dampaknya: sampe hari ini masih gak mau lepas dari musik DT padahal CD prog lain menunggu: NEAL MORSE ”?” (yang katanya yahud), LEAVES EYES ”Lovelorn”, ”ROINE STOLT” terbaru …. biarin lah mereka ngantri dulu, gw masih mabuk kepayang sama DT. Sekarang lagi pasang THE GLASS PRISON ….

Salam,

G

URIAH HEEP “The Magician’s Birthday”

Saturday, February 11th, 2006

Gatot Widayanto - Posted 5:26:39 AM EST, 2/11/2006
SPECIAL COLLABORATOR (Honorary Collaborator)

Uh_magician_cover As Ken Hensley put it at the CD liner notes this album was a natural follow-up to “Demons and Wizards” and supposed to be a concept album with a theme revolved around the Magician. But this album was done in a rush with a released date the same year with its predecessor. As far as Heepsters concerned it’s not a bad album at all, even an excellent one. It kicks off with an impressive opening through an organ sound followed with “aaaaa…aaaa…” choir which is very unique Heep sound through “Sunrise” (4:04) which later become the opening track for the band’s legendary Live 73 album. The song is very strong in melody as well as composition combining dynamic drumming, long sustain Hammond sound, guitar and great Byron voice.

“Spider Woman” (2:25) is not one of the band’s hits but this short track has a good harmony on guitar and keyboard as well as good melody. “Blind Eye” (3:33) reminds us to the style of “Demons and Wizards” album through a good combination of acoustic guitar, drums, keyboard and good vocal harmony. “Echoes In The Dark” (4:48) is an interesting track in medium tempo using Hawaiian / sliding guitar style combined with long sustain keyboard work. This is a song-oriented composition with a nice musical flow from start to end augmented with symphonic textures.

Those who were there in the glory days of 70s must remember this mellow track “Rain“ (3:59) dominated with piano and sweet vocal. People would always remember this song whenever they talk about Heep or Hensley. “Sweet Lorraine” (4:13) is the band’s legendary song where it features dynamic and pulsating keyboard buzz throughout the song combined with energetic voice line. I always enjoy this track performed live as well as original version. It has a heavy rhythm and good melody.

I did not pay attention to “Tales” (4:09) by the time the album was released. But when Iwatched the Magician’s Birthday Party DVD I was so amazed with this song because it was featured with guest appearance of Mr. Thijs Van Leer (Focus). Indeed, it’s a great track with a medium tempo. “The Magician’s Birthday” (10:23) is the main icon of this album. This song comprises multi-structure which combines different style from a ballad rock to heavy metal complete with hard-edge guitar solo augmented with dynamic drumming. At first listen the different styles did not seem to jive one to another but having listened to this song many times I came to realize that all parts were connected nicely. I have to admit whenever I play this CD I always repeat this track and the most memorable part of this track is the lyrical part “I challenge you! I challenge you All! …” oh .. what a rocking segment man! Of course I also love the long guitar solo work by Mick Box accompanied by Kerslake’s drumming. Wonderful!

It’s an excellent addition to any prog rock collection. Recommended. Keep on proggin’ ..!

Peace on earth and mercy mild – GW

URIAH HEEP - Very ‘eavy…Very ‘umble

Friday, February 10th, 2006

Review (Permanent link) by Gatot Widayanto @ 9:32:41 AM EST, 2/8/2006
SPECIAL COLLABORATION www.progarchives.com

   
I was only seventeen I fell in loVery_eavy_cover ve with a gypsy queen. She told me “Hold On!”

Uuugh .. aargh … Heaven knows! Who on earth in the glory days of seventies has never heard that opening lyrical part of “Gypsy” that became a true rocking yell at the time? If any, they should switch the time tunnel going back to the seventies and purchased the LP of this album. Yeah, it’s better because this song from a debut album of Uriah Heep whom just transformed themselves from Spice really took the rock industry by the storm, if I may say it. You bet, it was not as so popular as Deep Purple’s “Child In Time” but it was so phenomenal for rock freaks at that time. As for my case I only knew this song when the band released the Live 73 album. In fact this song was the best out of all tracks featured in the double-LP set and I always kept repeating it when I played it. The studio version is of course different with the live one but it still get the energy and enthusiasm required by rock music even though there is no improvised organ work and drum solo. The song opens with a rough-edge keyboard/ organ work combined later with distorted guitar work unique to Mick Box and Olsson’s dynamic drumming. It then follows with a very nice riffs (memorable too) which brings the first lyrical part. Yeah man … so rocking and I like it very much! Ken Hensley provides a distinctive distorted organ solo which later characterized Heep sound.

The following track “Walking In Your Shadows” (4:31) is a song with a simple riffs and good melody. The riffs are typical for any band that nowadays we call it as classic rock. “Come Away Melinda” by Hellerman/ Minkof was once a top radio hit in my country and became the trademark of the band whenever we hear this song or “July Morning”. I remember vividly how once my friend compared this song with King Crimson’s “I Talk To The Wind” or “Epitaph”. It’s a well composed song in mellow style with sweet vocal- a feature for the softer side of David’s voice. The song tells basically a conversation between a father and his young daughter whose mother has died in the war.

“Lucy Blues” (5:09) as the title implies is a blues based song composition. It’s unsusual that Heep has ever written this song. But remember that this was a debut album where typically any band would not firm yet with their music format. At that time it’s hard to find any band that did not venture their music into blues because it also happened with Jethro Tull, Led Zeppelin. It’s good to now that Heep has ever created this blues song which is very enjoyable even though it did not turn out to be the hit of Heep then. Hensley plays differently with his organ during interlude.

“Dreammare” (4:39) was written by Paul Newton (bass) which the title combines drem and nightmare. It has soft organ solo at the opening followed with driving rhythm which brings the song into ballad rock with distorted and hard-edge guitar solo. “Real Turned On” (3:37) is a good track with rock ‘n’ blues style and great distorted guitar sounds. During interlude part there are two guitars used – one presumably be played by Ken Hensley.

“I’ll Keep On trying” (5:24) is a song I never pay attention until I watched the Magician’s Birthday Party DVD in which this song was performed excellently. Characterized mainly by Hensley’s Hammond organ and wonderful choirs “aaa … aaa …aaa ..aaa” which characterizes Heep sound, this song flows excellently from start to end. This song also features stunning combination of hard-edge guitar solo and Hammond solo with powerful voice of David Byron. It’s a beautifully composed song.

“Wake Up (Set Your Sights)” (6:22) is different from other songs of Heep as it blends the components of jazz music into its composition. It reminds me to the music of Collosseum. The structure and composition can be considered as prog music as it combines jazz rock upbeat music with silent and explorative segments in the middle of the track. It’s truly an excellent track.

Of course this album deserves a full five star rating as a masterpiece of rock. I would recommend you to have the CD. Keep on proggin’ …!

This review is dedicated to my friends in m-claro mailing list who will rock Jakarta Tennis Indoor Stadium on 12 February and Surabaya Shangrila Ballroom on 14 February for URIAH HEEP World Tour 2006. ROCK ON!

Peace on earth and mercy mild - GW

SERU BANGET

Thursday, February 9th, 2006

Gileeee … seru banget nih diskusi mau nonton URIAH HEEP di milis m-claro@yahoogroups.com. Gimana ndak seru. bagi sebagian orang, terutama yang udah di atas 4o0 tahun usianya, grup ini menorehkan sejarah cukup apik dan dalam di hati mereka. Inget lagu JULY MORNING? Itu lho, lagu yang bunyi organ Hammond nya (oleh Ken Hensley) menyayat-nyayat hati itu .. terus lirik awalnya ini "There I was on a July morning… I was looking for love …". he he he he … gombal kan? Tapi nuansamatik pol lo jal!

Nah, kebayang gak kalo orang2 sepuh itu reuni dan nonton bareng di Tennis Indoor tgl 12 Feb dan di Surabaya tgl 14 nanti? Seruuuu ….!!! hue he he he he he he…

Keep on proggin’ …!!!

Get Prepared for URIAH HEEP!

Sunday, February 5th, 2006

Yeah man … after 2 months I was fully bombarded with Dream Theater music with one week after 27 January 2006 concert still playing their CDs, it’s now time to switch to URIAH HEEP who will perform two concerts in Jakarta (12 Feb) and Surabaya (14 Feb). So I started playing my collection of Heep CDs and wrote some reviews at www.progarchives.com. This is one of my recent review:

 

URIAH HEEP - Look at Yourself
by Gatot Widayanto @ 5:37:04 AM EST, 2/4/2006
SPECIAL COLLABORATION

Uh_look_at_ysself For those of you who were there during the glory days of rock music in the 70s, you must have known this album or at least one song called “July Morning” which was the radio hit at the time altogether with Deep Purple “Child In Time” and Grand Funk Railroad’s “Someone”. I only knew this album after I listened to Uriah Heep Live 73 where some songs of this album were featured beautifully. I fell in love with “Love Machine” and the title track performed live by the band. So I searched this album and found out the cassette version of this album from Monalisa, Bandung. By the time I got the cassette, “July Morning” was the norm already. Whenever we talk about Uriah Heep, people would directly associate with this song. It’s exactly like “Child In Time” with Deep Purple.

In 2000 I purchased the CD remastered version of the album. As Ken Hensley put it in the liner note of this CD version, this album was the one that made the band recognized in the American market. So I could only imagine how “important” this album to the band because it remarked the band’s entrance into American market. Some people said that the band was the second division bands and the others like Deep Purple and Led Zeppelin were at the first division. Well, whatever people said I totally disagree and I don’t care what people really said!. For me personally, Uriah Heep is the band with its unique characteristic and they play really original music unlike Led Zeppelin who mostly played other people’s songs or Deep Purple’s “Child In Time” which was adopted from other song. So be it. I LOVE URIAH HEEP man! No matter what other people say about the band! The uniqueness of Heep lies on unique sounds produced from Mick Box’ guitars and Ken Hensley’s strange organ sounds. That’s good enough to justify how the band is unique by its own. The combined sounds between the two are also excellent.

“Look At Yourself” (5:07) is a great track opener with a dynamic drum work combined with soaring organ and stunning guitar work. The music flows dynamicallywith organ as main rhythm section and backing vocal sound “aaaaaa…” characterizes the music uniquely. In between segments, organ provides its punch wonderfully followed with vocal choirs like “chuw chuw chuw …” augmented with guitar solo and soaring organ sounds. The composition lets drum solo followed with organ produces great musical flow. It ends up the song beautifully.

The opening track is followed almost seamlessly with “I Wanna Be Free” (3:59) which is actually a ballad song with an excellent melody and vocal choirs. This is the kind of song the people want to emulate especially the opening choirs line. It’s really a good song. Well, I don’t need to explore further with “July Morning” (10:36) which has become the icon of the band. This song is even becoming a regular setlist in any Heep’s live concert even until now. But my favorite version was the one featured at “Live 73” album where the combination of soaring organ and bass guitar playing of Gary Thain (RIP) is truly wonderful! I even like the live version than the original studio version.

No one would argue that “Tears In My Eyes” (5:02) is an excellent rocking track. Performed in relatively fast tempo this track combines stunning guitar solo by Mick Box and powerful Byron’s voice and excellent keyboard sounds. Everyone knows that the main characteristic of this song lies on minute 1:45 where the voice line sings “chuw chuw chuw ….” accompanied with acoustic guitar fills. It’s really great!

“Shadows Of Grief” (8:40) is not the band’s hit but it has a powerful musical quality in terms of composition and textures and, again, it demonstrates great vocal choirs combined with stunning organ sounds. It’s one of my favorite as well. The drum is also very dynamic. Byron sings in relatively fast tempo and high register notes. “What Should Be Done” (4:13) is a mellow track with excellent electric piano work by Hensley. It provides a musical break because it’s relatively slow. The concluding track is a rocker “Love Machine” (3:37). This track has become a legend and one of my favorites.

It’s hard for me to identify any lacking this album has as a phenomenal rock music that shaped the foundation of classic rock sounds. Altogether with “Demons and Wizards” I would give this album as a masterpiece rock album which any rocker on planet earth should own a copy of this album. It’s a mandatory album of the 70s! My CD has two bonus tracks: "Look At Yourself" (single version) and "What’s Within My Heart". Keep on proggin’ ..!

To Uriah Heep: Welcome to Indonesia!! We will rock the stadium with a flock of Indonesian rockers ….

Peace on earth and mercy mild – GW