DISCUS sukses di Swiss & Jerman 2005
Sunday, October 16th, 2005Reported by Kiki Caloh, originally posted at m-claro@yahoogroups.com
om gatot, terima kasih atas antensinya yang begitu dalam. btw, saya beritahu dulu bahwa saya bukanlah pencerita yang baik, namun demikian saya coba. bagi teman2 discus lainnya silahkan bila ada yang mau menambahkan……
Group discus berangkat pada hari rabu minggu lalu (05/10/05). Berangkat dari Cengkareng ke Zurich via Changi. Bawaan cukup banyak karena anggota rombongan juga cukup banyak, ada 8 orang member of Discus, ditambah 1 orang additional guitarist, dan 1 orang guest vocalist (i.e. Fadly "Padi"). Selain itu juga ada 1 orang bawaannya Fadly, ditambah dengan 1 orang dari AnTV, 2 orang dari Metro TV (presenter 1 orang, cameraman 1 orang), ditambah dengan 2 orang reporter, seorang dari Tempo, dan seorang lagi dari Rolling Stone Indonesia. Total general ada 16 orang. Cukup banyak pesertanya dan bawaannya juga menyita perhatian mengingat discus juga membawa perangkat alat musik masing-masing. Kuota masing2 personil sekitar 20 kg, lumayan mepet !!!, namun setelah nego dengan SQ, discus dapat dispensasi dari 20 menjadi 30 kg. Lumayan……bisa bernafas sedikit. Selain personal belongings, equipment yang dibawa adalah: bass, rindik, drums, electronic, gender mini, gitar elektrik (2), harp gitar, keyboard (1), snare, cymballs, violin (2), clarinet, saxophone, bass clarinet, flute, suling2 daerah, efek2 untuk violin, bass, dan gitar……….cukup ribet……..! Setelah prosesi check-in yang cukup menyita waktu dan perhatian, Akhirnya seluruh rombongan dapat melanjutkan proses ke boarding gate.
Sampai di Zurich proses keimigrasian dilakukan dengan sangat efisien, tidak ada isi mengisi kartu imigrasi dan tetek bengek lainnya, tinggal menghadapkan kartu ijin visa ke hadapan scanner, dan …..voila !! kita bisa menjejakkan kaki di bumi Swiss yang indah dan dingiiiiiiiiinnnnnnnnn itu……..Mungkin karena baru pertama kali itu setelah turun pesawat, maka rasanya dinggiiiiiinnn banget………. Sampai di Swiss, discus sudah disambut oleh panitia ProgSol, yaitu Dominick (president), serta Patrick dan seorang rekannya. Selain itu Discus juga disambut oleh ibu Budi dan rekannya yang merupakan wakil dari Kedutaan Indonesia di Swiss. Setelah upload barang2 ke dalam mobil, perjalanan dilanjutkan melalui autobahn dari Zurich airport ke kota Pratelln di Swiss.
Setelah kira2 2 s/d 3 jam perjalanan, Discus sampai di kota Pratelln, dan setelah unload bagasi di hotel Etap, rombongan melanjutkan perjalanan ke venue ("Z7"). Venue ini letaknya tidak jauh dari hotel Etap sehingga pulang pergi relatif mudah dijalani. Dari luar venue terlihat tidak meyakinkan karena hanya terlihat seperti gudang biasa yang banyak terdapat di daerah kawasan industri atau di daerah pelabuhan. Apalagi di luarnya banyak coretan graffiti…….namun setelah ngintip ke salah satu kantornya disitu terpampang poster2 bahwa yang tadinya gudang itu ternyata merupakan saksi sejarah tempat banyak band yang kita kenal pernah manggung disitu, seperti: Stratovarius, Manowar, Spock’s Beard, Flower Kings, Saga, Nazareth, Manfred Mann, Nevermore, Gamma Ray, Twisted Sister, Uriah Heep, Kansas, Yngwie Malmsteen, Thin Lizzy, etc……wah kayaknya mau ngiler aja nih, membaca banyaknya band dunia pernah manggung disitu, kontan aja mas seno (Tempo)dan mas adib (RSI) mengabadikannya dalam foto. Setelah membaca sekian banyak band dunia yang "sudi" kiranya main di Z7, buat saya tidak mengherankan ketika saya melihat konstruksi tata panggung, lightning system, tata suara, yang telah ditata dengan begitu professional…………..pada saat check sound saya tidak henti-hentinya kagum, sang master operator (sound engineer) adalah mantan pemain bass band Krokus, dan iapun sekarang berprofesi sebagai produser. Cara kerjanya sangat sistematis, efektif dan efisien. Satu persatu musisi diminta untuk memainkan equipment nya sampai ia menemukan sound yang tepat……sungguh saya sangat surprise akan cara kerjanya.
Setelah check sound, rombongan discus melakukan photo session dan Setelahnya kembali ke hotel untuk istirahat dan bersiap2. Photo session dilakukan tidak jauh dari venue dimana ada kebun bunga matahari berwarna kuning yang sangat indah………….yang pantas untuk dijadikan tempat photo session. Setelah beberapa pose, akhirnya rombongan kembali ke hotel. Malamnya rombongan kembali ke venue dan siap2 untuk mentas.
Acara dimulai dengan pembukaan oleh band "Liquid Scarlett". Band ini dari Swedia, dan banyak ter influence oleh King Crimson (era sebelum Belew masuk), serta Anekdoten dan Angglagard, cukup progresif, dan yang surprising buat saya adalah mayoritas musisinya adalah anak muda, yang mungkin pada saat era KC dan Angglagard jaya, mereka belum pada lahir !!!…………..Setting sengaja mereka set pada era kejayaan KC dan AGGD pada masa itu dimana bass menggunakan bass Rickenbecker serta keyboard pun bukan menggunakan model yang terkini…………mereka semua mengenakan kostum terusan berwarna putih…………..
Band kedua adalah "The Watch" dari Italia. Band ini mengambil banyak Pengaruh dari Genesis era Peter Gabriel. Pengunaan double neck, mellotron, hammond, bass pedal, menjadi beberapa icon yang menarik dari band ini. Disamping itu juga penyanyi nya tampil dengan gaya yang eksentrik, muka dilumuri warna putih,dimana dia nya sendiri menggunakan baju warna hitam ketat dengan bulu2 halus di pundaknya. Penampilan yang sungguh progressive ! Tidak itu saja, karena model vokal serta timbre suara sang vokali mirip sekali dengan Peter Gabriel, sehingga kita selalu membayangkan Peter ketika mendengarnya bernyanyi……….sungguh mirip…………band ini bermain dengan rapi sama dengan Liquid Scarlett dan mereka membawakan beberapa nomor original dari album mereka sendiri. BTW, beberapa anggota rombongan nyeletuk…….eh, muka si penyanyi The Watch itu mirip Andy Rif ya ? Ketika saya lihat, ternyata ada benarnya juga !!! gak tahu apakah ada hubungan keluarga dengan Andy Rif, tetapi memang……mirip !!!
Discus menjadi band penutup, dibuka dengan lagu contrast, yang kemudian di ikuti dengan breathe, lagu makassar, SM, nangroe, kartini, anne, yang ditutup dengan lagu fantasia L/G. Namun karena penonton minta encore lagi maka discus akhirnya menambah lagu Doc’s tune sebagai penutup. Yang membuat saya surprise adalah penonton ikut menyanyikan intro lagu SM…………….selain itu yang membuat saya surprise juga adalah lagu nanggroe yang dibawakan dengan begitu syahdu oleh Fadly, wah merinding rasanya……..pada kesempatan ini discus juga membuat komposisi lagu yang berasal dari lagu tradisional makassar. Lagu ini dinyanyikan secara tradisional oleh Fadly sambil memainkan alat musik keplekan bambu sambil diiringi oleh suara gita khas Makassar (hanya 2 dawai) dan terompet mini khas Makassar (bunyinya eksotis buat gw: teroret, towet, tewottttt….). Buat saya gig yang satu ini merupakan yang teristimewa, karena permainan Discus didukung oleh tata lampu dan suara yang ciamik.
Selepas pementasan, discus langsung berkemas2 untuk melanjutkan perjalanan ke Jerman, kalo gak salah waktu itu jam menunjukkan pk. 14.00 waktu setempat………. Karena kelelahan, dalam bis, selama perjalanan anggota Discus semuanya tertidur kecuali pada saat melintasi perbatasan Jerman dimana paspor diminta untuk di verifikasi oleh petugas imigrasi Jerman. Kita semua tunggu dalam bus sambil berharap mudah2an semuanya berjalan lancar. Untung semua berjalan lancar dan discus dapat melanjutkan perjalanan. Sesampainya di Wuerzburg, hari sudah terang, dan sementara anggota mampir di motel pelican (dekat teater IMAX) sebagai persinggahan untuk cuci muka, atau mandi2, sebelum bertemu dengan deputy major of wuerzburg town.
Kota Wuerzburg merupakan salah satu kota tujuan wisata di Jerman. Kota ini terletak agak di selatan Jerman (dekat dengan Frankfurt), dan merupakan kota tua dengan gedung2 tua bersejarah. Salah satu icon kota ini adalah istana yang terletak di puncak bukit yang dipinggirnya ditanami oleh kebun anggur vine yard). Kota ini pernah hancur rata dengan tanah pada saat berakhirnya WW II dimana kota ini di bombardir oleh para penerbang RAF. Hingga saat ini pada saat hari pemboman itu, warga Wuerzburg memperingatinya dengan membunyikan bel (lonceng gereja) selama kurang lebih 20 menit. Pertemuan dengan deputy major sangat mengesankan. Beliau adalah seorang wanita yang mengagumkan dan sangat menguasai bidang perdiplomatan dimana ia bekerja. Dengan sangat luwes ia menjelaskan hal-hal yang penting dari kota Wuerzburg, diimulai dari situasi perpolitikan, ekonomi, sejarah, dan hubungan dengan negara lain, dan bahwa kota Wuerzburg sangat terbuka untuk menjalin hubungan dengan kota-kota lain di dunia. Semoga saja setelah pementasan Discus ini kota Makassar yang menjadi salah satu donatur akan menjadi "sister city" kota Wuerzburg.
Pihak penyelenggara Freakshow dipimpin oleh president nya yang sangat energik, bersahaja, low profile, namun smart, i.e. Charly. Dengan sangat trampil ia melakukan koordinasi acara, dari akomodasi, makan, penginapan, transport rombongan discus start dari Swiss hingga Wuerzburg, sampai ke airport di Frankfurt. Freakshow sendiri merupakan serial acara yang di manage oleh Charly sendiri dengan bantuan (volunteer) beberapa simpatisan prog.
Pementasan kali ini dilakukan di AKW, sebuah gedung kebudayaan yang berada di bawah pengawasan divisi kebudayaan dari pemda Wuerzburg. Freakshow sendiri bukanlah acara yang biasa, sudah beberapa band dunia main di acara ini, e.g. Anekdoten, Angglagard, Echolyn, Present, Magma, dan beberapa band prog lainnya…..tempatnya tidak sebesar Z7, namun tetap menunjukkan ciri khasnya sebagai sebuah tempat pementasan yang pro. Acara check sound berjalan tidak begitu lancar. Sang operator (sound engineer) kurang dapat menguasai alatnya sehingga sering kelihatan bingung apalagi menghadapi banyaknya alat dari masing2 personil Discus. Walhasil check sound kurang maksimal karena masih banyak kekurangan di sana sini terutama monitor panggung yang memang tidak ada. Karena kondisi ini dan karena waktu yang kurang cukup untuk kembali ke hostel (discus tinggal di youth hostel yang letaknya dekat dengan kota) maka diputuskan Discus untuk mentas pertama kali. Ini berbeda dengan rencana semula dimana Liquid Scarlett menjadi band pembuka. Pertimbangan Charly lainnya adalah karena Discus main di hari Minggu malam, dan beberapa penonton ada yang esoknya masuk kerja sehingga mereka tidak dapat menunggu hingga larut malam. Oleh karenanya show Discus dimajukan.
———-
Dengan setting song yang mirip dengan di Swiss, discus kembali membawakan beberapa lagunya. Meski ada beberapa keterbatasan, terutama soal monitor panggung dan setting panggung yang tidak sebesar panggung Z7, Discus membawakan lagu-lagunya secara ringan dan santai. Meski ada beberapa orang anggota rombongan yang setelah pementasan memberitahukan bahwa tampang gw dan anto paling bete, namun the show must go on dan professionally kita mencoba memberikan yang terbaik buat penonton.
Well,kerja keras anak2 rupanya membuahkan hasil karena tahun depan discus diundang lagi untuk tampil, dan kali ini discus akan membedah Jerman untuk tiga acara yaitu: Zappanale, Burg Herzberg, dan Freak Show. Selain acara ProgSol di Swiss dan Prog in Rio di kota Rio de Janeiro, Brazil.
Setelah pementasan Discus, yang tadinya sebagai pembuka i.e. Liquid Scarlett, sekarang menjadi penutup, dan sebagian dari penonton sudah pulang karena pementasan discus pun selesainya sudah larut malam. Untuk itu, kita merasa tidak enak dengan LS dan oleh karenanya Iwan sebagai leader minta maaf atas kejadian ini kepada LS. Audience agak sedikit berbeda dengan Z7. Kalo di Z7 audience agak lepas, dan santai, berbeda dengan audience FreakShow yang serius dan baru keplok tangan setelah lagunya bener2 selesai. Namun demikian, they are both terrific audiences………..
Selepas encore (doc’s tune, yang kali ini dimainkan dengan sempurna karena gw mulai ingat lagi chord2nya……beda dengan waktu di Z7 dimana gak dipersiapkan untuk encore tapi karena satu dan lain hal dijadikan encore meski gw lupa chord nya namun hajar bleh, dengan gaya "avant garde aka. lupa" hehehe), discus kembali ke hostel dan siap2 istirahat untuk pulang.
Setelah 1 hari full round2 kota Wuerzburg, akhirnya rombongan siap2 untuk pulang ke Indonesia via airport Frankfurt. Meski capek juga selama perjalanan apalagi buat rekan2 yang sedang menjalani ibadah puasa, namun perjalanan kali ini dapat diselesaikan juga dengan riang gembira dengan segala suka dukanya.
Dan perjalanan ini pun dapat terselenggara berkat dukungan dari Singapore Airlines yang telah begitu baik memberikan support tiket perjalanan Indo - Eropa - Indo. Wuah, oom gatot ceritanya segini dulu ya, wong aku ini gak biasa cerita lho……..semoga bermanfaat dan semoga ada kawan yang anggota rombongan yang mau menambahkan atau mengkoreksi.
Tks & rgds, KC.
BRAVO DISCUSS!!!! Am proud of you guys …!!!! - Gatot