Archive for September, 2005

ProgNite 26 Sep 05 (2)

Wednesday, September 28th, 2005

Reviewed by: Husni I. Pohan at m-claro 28 Sep 05

Setelah beberapa prognite sebelumnya, baru kali ini gue bisa lihat secara langsung prog-show di indonesia. btw gue bw 1 orang teman kantor yang sedang dalam proses pe"ratjun"an prog. berikut ini sedikit komentar dari depan speaker kiri (disamping om andi julias, sebelum beliau dipanggil ke panggung depan).

    Post Modern (****) menurut gue band ini menarik banget, lagunya panjang, skill pemain2nya diatas rata2 baik drum (yang sambil main keyboard juga), bass, perkusi (yang penampilannya kayak artis j-rock dengan baju india) dan gitar (kalem dan berteknik tinggi). btw materi yang dibawakan bagus cuma rada kurang kompak, kaenya kurang latihan bareng neh.. catatan, proses peratjunan dimulai

   Phantasma (**) ini seperti iron maiden main-in prog ala camel, sound 2 gitarisnya bener2 plek suara 1 dan 2 dan saling menyahut, dengan vokalis malu2 yang tadinya gue kirain penonton (sempat duduk di kiri depan gue). btw bagi gue prognya kurang berasa…, tapi vokalnya cukup ngeprog neh.. catatan, proses peratjunan stagnan…

   EOF (**) yang ini bener2 didominasi keyboard, sementara bass dan gitar sempat ada problem sound, sound gitar 90′an-nya rada monoton dan menurut gue gak nyambung dengan keseluruhan musik, ditambah lagi rumitnya musik mereka gak karu-karuan, sayang keyboardis sempat keteteran ketika harus solo dengan tangan kanan sementara tangan kiri harus jaga rhtym, sementara sound keyboard-nya ketika solo model "orgel" sempat terputus-putus.., band ini kaenya sibuk sendiri dan gak peduli penonton.. catatan, gue sempat pesimis proses peratjunan teman gue gagal..

   Zeke and The Popo (*****) nah ini baru new "pf", kirain player yang jongkok didepan keyboard nyaris sepanjang lagu adalah sound engineer yang lagi benerin efek ;-), gitaris yang satu lagi gak mau berhadapan dengan penonton (ada kesan malu2 yang kuat dari band satu ini). sementara gue sempat bingung menebak siapa yang bernyanyi di lagu pertama (kalau di ep lagi ini di track yang keempat cmiiw). btw alangkah indahnya kalau track #1 di ep mereka ditambah solo gitar psychedelic ala gilmour… catatan, pada "ep" track ke empat kok ada jeda panjang banget (hampir 10 menit), atau ini sebenarnya track ke lima. disini proses peratjunan berjalan mulus..

   Anane (*****) ini baru top, gak salah kalau mereka ditempatkan di even puncak, bermain dengan santai, kompak, dan mengesankan mereka sudah berlatih bertaun2 sebelumnya. khusus drum, gitar dan seksi tiup bermain dengan sangat prima, kaenya popularitas di dunia prog manca negara menyusul discus, sudah gak jadi hal yang aneh bagi mereka kelak. leader ship sang frontman, firman juga sangat membantu grup ini tetap pada jalurnya, kelihatannya bisa menjadi pesaing magma dengan kobaia-language nya, cuma disini anane dengan gayo-language nya he,he.. catatan, gue paling suka slebar-slebor..(satu2nya lagu yang gak ada gayo-nya..), disini proses peratjunan rekan gue berlangsung dengan baik dan tuntas.., dia keratjunan berat dan puncaknya duit gue 50.000 yang sengaja gue keluarin untuk nraktir dia nonton, dibalikin, "gak perlu traktir !" katanya.., "gue puasssss" katanya lagi pulangnya gak bisa tidur langsung, masih merenung sambil baca prog magz sampai tamat, kelihatannya majalah kita ini perlu ditambahin informasi produk ips (dijual dimana, berapa harganya, kemana kalau harus pesan dll). btw setelah selama ini cuma kenal di milis, tadi malam bisa tahu sosok anto, andi julias, reza dan teman2 milis lainnya.., meski baru 1 arah..

np anane - spin yang ke 4…

ProgNite 26 Sept 05 (1)

Wednesday, September 28th, 2005

Reviewed by Didik at m-claro 27 Sep 05

Prog Nite III 26 Sep 2005 Secara umum lebih menarik dibanding Prog nite II Nerv dkk. Thanks to EOF, Post Modern Band, Zeke & The Pow-Pow & Anane. Agak sulit untuk menilai secara objektif hanya berdasar pengamatan sesaat & semalam kayak kemarin. Tapi secara umum saya angkat topi buat ke 4 grup di atas.

    EOF cukup berhasil mengkombinasikan warna permainan 70’s prog(aka Emerson) dengan 90’s prog. Dengan keyboard sebagai frontman yang membuka performance dengan permainan yang kental berwarna Emerson ditingkahi oleh Gitar, Bas & Drum yang cukup bisa mengimbangi sang frontman. Sayang di setengah dari performance mereka sound gitar sempet hilang. Padahal sepertinya menarik sekali interplay antara 90’s gitar-70’s keyboard yang mereka tonjolkan, dengan rythm section yang nggak selalu ribet tapi cukup bisa blocking dominasi unison yang ditampilkan.Warna Symphonic cukup mendominasi performance dari EOF ini. Potensial untuk terus di-follow up & bikin album. Dan saya nggak ragu buat beli.

     Post Modern Band. Dengan frontman sang gitaris yang kentara sekali sangat terpengaruh dengan Robert Fripp. Menghadirkan sound yang kaya sekali dengan warna & tekstur & variasi chord. Secara umum warna musik mereka, karena sang frontman keturunan Robert Fripp, cukup berbau King Crimson. Meski seperti yang dibilang Mas Denny & Mas Anto warna Djam Karet & Ozric Tentacles cukup dominan juga kehadirannya. Sayang performance dari sang Xylophonist yang berdandan cukup eksentrik nggak diimbangi oleh personi lainnya. Karena sebenarnya warna musik mereka cukup cocok untuk dipadu dengan dandanan kayak gitu. Menarik. Pantas untuk di-follow up & bikin album. Dan saya nggak ragu pula buat beli.

    Phantasma. IMHO, nggak terlau istimewa. Satau hal yang saya suka dengan mereka, harmoni duet gitarnya yang melodius & menghanyutkan. Belum sekelas Camel mungkin. Tapi …bolehlah. Nggak kebayang kalo dibilang di Prog Fest I mereka DT banget….

    Zeke & The Pow-Pow. Wah!!!!! Intro pembuka penampilannya udah bikin adrenalin mengalir deras. Roh Pink Floyd mereka hadirkan. Namun selepas intro saya agak menyesalkan, dengan kreatifitas mereka membangun warna & tekstur sound & permainan yang bagus, kok malah jadi sangat terjebak dengan warna musik Thom Yorke dkk. Radiohead abis!!!!Enjoyable sih ya.Tapi wajah Jonny Greenwod dkk terus membayangi benak saya. Apalagi gaya Leo Ringo sang gitaris yang Jonny Greenwood banget. Yang saya heran juga, kesan kekurang-PD-an para personil kok tampak banget ya?? Seandainya saya berdiri di posisi mereka pasti saya nggak akan seminder itu. Jelas2 musik mereka udah cukup menarik pujian & ketertarikan di maiillist…. Baca review Pak Gatot pagi kemarin, rasa penasaran buat punya CD-nya deres banget. Tapi selepas ngelihat performance mereka.. PoS Entropia deh yang menang buat saya embat…BTW salut buat semua sound effect & noise yang mereka tampilkan!! Saya suka sekali bahwa ada musisi2 kita yang tertarik untuk bawain musik kayak gini.

   Anane. TOP Banget!!!!! Dengerin kasetnya sebenernya saya nggak terlalu tertarik2 banget. Saya hadir kemarin lebih untuk Zeke & The Pow-Pow. Namun setelah Anane perform.Wah!!!!! Musik dengan aransemen yang cukup ketat berhasil mereka bawakan dengan mendekati sempurna. Groove mereka terasa banget, membuat adrenalin mengalir deras sekali. Interplay & harmoni antar personil terjaga. Rythm section yang tangguh. Classical gitaris yang variatif. Perkusionis yang groovy banget. Saxophonist yang meliuk2 panjang namun tidak membosankan(Ngingetin ma Ian Underwood & Don ‘Sugarcane’ Harris-nya Zappa). Keyboardist yang setia menjaga tekstur komposisi. Leader yang dominan dan terasa banget pengaruh dia terhadap yang lain. Satu masalah dari Anane, sang gitaris tenggelam kurang terdengar. Padahal kalo melihat pergerakan jari-jemarinya, dia mestinya banyak memberi warna pada tekstur komposisi, seperti halnya sang keyboardist.Dia bukan solis, lebih sebagai team player, seperti juaga halnya dengan semua personil yang lain. Permainan perkusi yang yang tegas & stabil didukung dengan beat & irama yang kuat menjadi pondasi yang kokoh bagi komposisi2 Anane. HEBAT !!!Saya jadi tergerak untuk lebih mendalami mereka lebih lanjut sepulang dari Avenue kemarin. Sayang saya cuman menikmati mereka sampai komposisi IV. Udah terlalu malem. Mungkin rekan2 yang lain bisa cerita lebih banyak???BTW, baru kali ini saya cukup tertarik dengan musik etnis. Dan ternyata jauh lebih nikmat menikmati Anane dibanding menikmati Krakatau nowadays…

   Satu kritik saya buat para performer & mungkin juga panitia(Saya angan dipelototin lagi ya Mas Anto, :-)) . Jangan terlalu lama menawarkan jeda antar performer. Situasi menunggu cukup meruntuhkan mood bagi para penonton untuk tetep fokus & konsen ma musik yang ditampilkan. Sayang kalo para performer udah berusaha tampil the best tapi gara2 mood penonton yang udah anjlok, jadi nggak terperhatikan. Mungkin bisa lebih dipertimbangkan untuk membatasi performer supaya acara selesai nggak terlalu malam. Saya amati saat acara puncak, Anane, penonton udah cukup banyak berkurang……

At last, mohonmaaf kalo ada salah kata / komentar. Thanks !!!!!

 

Take Full Responsibility for Your Life

Tuesday, September 6th, 2005

LIFE STRATEGIES FOR SUCCESS & HAPPINESS: Article No. 5 of 30 Success Article Series

By: Max E. Makahinda - Senior Vice President Bank Danamon

The article is worth reading and presented at:  ValueQuest